oleh

UN Terpaksa Mati Lebih Muda, di Antara Stres dan Bilang “Ya”

Pelopornews.com Pandemi virus covid-19 Benar-Benar Telah memporak-porandakan Skenario-skneario kehidupan Manusia di Muka bumi. Banyak program yang harus ditunda, diselesaikan sementara hingga total disetop.

Pandemi virus korona memang harus menjadi musuh bersama negara-nagara di belahan dunia yang harus segera dimusnahkan, agar tidak merusak sel atau sendi-sendi kehidupan yang lebih parah dari lumpuh.

Salah satu yang menjadi korban akibat penyebaran virus pandemi asal Wuhan, Provinsi Hubei, Cina ini adalah dunia pendidikan Indonesia.

Ya, demi menghindar dan mencegah penyebaran virus corana, Ujian Nasional (UN) yang sejatinya dari semua tingkat pendidikan, dari SD hingga SLTA yang harus “mati” lebih muda.

Kenapa penulis menyebut “mati” lebih muda?

Pasalnya, UN yang sudah berpuluh-puluh tahun diberlakukan di dunia pendidikan tanah air dengan beganti nama dan istilah memang sebelumnya sudah dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim untuk bisa diselamatkan atau ditiadakan mulai tahun 2021 mendatang.

Itu artinya, itu pelaksanaan UN tahun 2020 ini sejatinya menjadi gelaran terakhir. Namun, menyebarkan wabah pandemi virus korona telah disetujui sang menteri untuk menyetujui tes atau ujian yang selama ini seolah telah menjadi “horor” bagi setiap siswa yang diharapkan akhir sekolah.

Untuk itu, cukup pantas kiranya, jika ditiadakannya UN pada tahun ini, kita ucapkan sayonara pada Ujian Nasional.

Putusan Mendikbud untuk meniadakan UN tahun ini adalah lanjutan dari putusan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sekali lagi, putuskan ini untuk menghentikan penyebaran virus corona COVID-19 yang ada di Indonesia.

“Presiden Joko Widodo memutuskan meniadakan ujian nasional (UN) untuk tahun 2020 yang sebelumnya sudah ada persetujuan UN mulai tahun 2021,” kata Jubir Presiden Fadjroel Rachman dalam keterangan tertulis, Selasa (24/3/2020).

Keputusan ini memang sangat beralasan, dianggap seperti dilansir Vivanews.com , 8,3 juta siswa dari 106 ribu sekolah di seluruh Indonesia yang diterima mengikuti UN tahun ini. Pastinya, pemerintah tidak ingin mengambil risiko, UN malah menjadi sarana penularan virus corona. Korbannya tidak hanya menentang jutaan siswa, melainkan keluarga dan pihak lain yang terlibat.

Lalu bagaimana skenario dan kelanjutan peserta didik dengan keberadaan peniadaan UN?

Mendikbud Nadiem mengklaim, keputusan peniadaan lebih cepat UN yang tak memengaruhi sistem pendidikan nasional, termasuk urusan menentukan kelulusan para siswa. Sebab, selama ini UN bukan lagi penentu kelulusan para siswa atau persyaratan seleksi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Para lulusan SMA / sederajat bisa kuliah dengan mengikuti tiga jenis seleksi: jalur undangan, jalur reguler (SBMPTN), dan seleksi mandiri.

Begitu juga untuk para siswa yang mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Peniadaan UN menerima Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

“Tujuh puluh persen dari penerimaan siswa sudah zonasi, jadi sudah berdasarkan daerah. Selebihnya, seleksi masuk berdasarkan penilaian nilai atau bisa juga berdasarkan prestasi akademik atau non-akademik,” ujar Nadiem, seperti dikutip dari Vivanews.com

Masih dilansir Vivanews.com , Nadiem juga menentukan pembatalan UN tidak harus memengaruhi pada penerimaan siswa baru.

“Jadi, itu penting, itu pembatalan UN ini harusnya tidak berdampak pada Penerimaan Peserta Didik Baru.”

Disambut Beragam Oleh Siswa
Putusan pemerintah untuk meniadakan UN pada tahun 2020 ini rupanya ditanggapi beragam oleh peserta didik. Mungkin hal ini terjadi di lingkungan sekitar penulis.

Salah seorang siswa SMP yang memang sedang ditanyai adalah siswa yang cerdas diterima dengan kebebasannya UN perasaan campur aduk ini, antara senang dan stres. Pasalnya, Siapkan Dia Mengerjakan UN ini Dibutuhkan Waktu yang tidak sedikit. Demi UN, si anak ini hanya perlu belajar dan belajar saja.

Kendati demikian, terima si anak ini sebagian kecil dari apa yang penulis temukan. Pasalnya, ternyata jauh lebih banyak yang diterima girang setelah mengetahui bahwa UN tahun ini ditiadakan.

” Ya,” katanya.

Akhir kata, menurut hemat penulis, apapun alasannya putusan pemerintah dengan meniadakan UN pada tahun ini yang diparesiasi. Betapapun, keselamatan dan kesehatan para siswa dan sekitarnya jauh lebih penting dibandingkan dengan hal lain. Terima kasih.

 

Sumber redaksi

News Feed