oleh

Pertemuan PDIP-Gerinda Dekatkan Skenario Prabowo-Puan

Pelopornews. Com

JAKARTA — Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menanggapi pertemuan antara pengurus DPP PDI Perjuangan dan DPP Partai Gerindra di Kantor DPP PDIP kemarin, Selasa (24/8). Menurutnya, peluang koalisi kedua partai sangat terbuka dan semua masih serba kemungkinan karena politik itu sifatnya dinamis.

“Peluang koalisi kedua partai sangat terbuka. Karena saat ini, baik Mega dan Prabowo lagi dekat. Dan PDIP-Gerindra juga sedang memadu kasih. Namun, semua harus diuji dengan dinamika politik yang berkembang kedepan. Apakah mereka masih dekat atau bisa juga akan berpisah?,” katanya  Rabu (25/8).

Kemudian, ia melanjutkan, jika pun skenario koalisi kedua partai tersebut terjadi, maka kemungkinan terkait pasangan capres dan cawapresnya jatuh pada Prabowo dan Puan. Bukan Prabowo-Ganjar atau Prabowo-Gibran.

“Karena skenario PDIP itu skenario Puan. Bukan yang lain. Makanya saat ini Puan sedang menggenjot elektabilitasnya. Skenario Prabowo-Puan. Mungkin bisa saja lawan beratnya Anies-AHY atau Anies-Khofifah,” kata dia.

Ia menambahkan, bisa juga terdapat pasangan kandidat lain yang saat ini masih terus sedang berjuang untuk naikkan elektabilitasnya masing-masing. Soal skenario Prabowo-Puan, potensi kemenangannya tergantung banyak hal. “Ya itu bisa menang dan bisa juga tidak. Tergantung lawannya dan tergantung pada dukungan rakyat,” ujar dia.

Pertemuan antara pengurus DPP PDIP dan DPP Partai Gerindra di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Selasa (24/8), merupakan momen nostalgia. Hanya saja, pertemuan kedua partai kemudian dilaksanakan dan berlangsung secara tertutup.

 

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan hal itu saat menerima kedatangan pengurus DPP Partai Gerindra yang dipimpin Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Menurut dia, pertemuan dengan Gerindra ini membuat dirinya langsung bernostalgia pada tahun 2009 ketika pasangan Mega-Prabowo berjuang pada pilpres.

Ternyata kita bisa melihat ketika itu di mana demokrasi menghalalkan segala cara dengan manipulasi DPT, demokrasi dengan menjadikan beberapa elemen KPU sebagai pengurus partai, demokrasi menggunakan bansos sebagai politik elektoral, dan demokrasi menggunakan hukum aparat sebagai alat untuk memenangkan pemilu, itu menjadi evaluasi bersama dari kedua partai,” kata Hasto.

 

Dalam pertemuan itu Hasto didampingi oleh jajaran pimpinan PDIP, yakni Komarudin Watubun, Yasonna Laoly, Utut Adianto, Eriko Sotarduga, Ahmad Basarah, Djarot Saiful Hidayat, Sri Rahayu, Bambang Wuryanto, Sadarestuwati, dan Nusyirwan Soedjono.

Sementara Sekjen Gerindra Ahmad Muzani datang bersama 9 orang jajaran pimpinan di DPP Gerindra, antara lain, Prasetio Hadi, Puti Sari, Susi Marleni, Andre Rosiade, dan Moreno Soeprapto.

Sumber in

 

News Feed