oleh

Pelatihan Tim Korkot Fasilitator Lokasi Non BPM-2020

 

Selasa-Kamis Tanggal 22-24 September 2020, dilaksanakan pelatihan tim korkot dan fasilitator non BPM program Kotaku OSP-8 Provinsi Gorontalo 2020. Peserta pelatihan dengan jumlah  sebanyak 21 orang. Materi yang disampaikan pada pelatihan tersebut, merupakan materi lanjutan dari materi dasar Program Kotaku. Secara keseluruhan dari materi yang disampaikan oleh pemadu Nasional pada garis besarnya dapat diklasifikasi menjadi beberapa bagian, diantaranya bagaimana merview RPLP program, membagun kelembagaan yang kuat dan membangun visi misi pendamping Fasilitator yang tangguh. Memulai pelatihan pada materi pertama samapai pada materi terakhir merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Pada pengantar awal pelatihan disampaikan tentang bagaimana etika pelatihan yang dilakukan dengan cara Webinar oleh Rahmadi sebagai Sub. Pelatihan Program Kotaku OSP-8 Provinsi Gorontalo.

Team Leader Kotaku OSP-8 Provinsi Gorontalo Ilham Hamid, pada sambutan awal menyampaikan bahwa pelaksanaan pelatihan ini dilaksanakan selama Tiga hari. Yang mengikuti pelatihan ini adalah Tim Korkot dan tim Fasilitator lokasi Kategori dua dan Kategori Tiga. Yaitu lokasi pendampingan pencegahan dan peningkatan untuk pendampingan pelaksanaan kolaborasi kedepannya. Rasio pendampingan lokasi kategori Dua, Satu Fasilitator mendampingi Sepuluh Kelurahan, sementara lokasi kategori Tiga dengan rasio pendampingan, Satu Fasilitator mendampingi Dua Puluh Kelurahan. Lokasi kategori pertama sendiri adalah lokasi pendampingan pelaksanaan kegiatan BPM tahun 2020, yang sekarang ini sementara berjalan kegiatannya. Untuk lokasi ketegori Daua dan Tiga saya kira ini menjadi catatan sehingga kedepannya perlu menjadi perhatian terutama pada rasio pendampingan kedepannya. Bagaimana pun juga lokasi kategori dua dan Tiga tetap menjadi lokasi yang perlu dilakukan secara intens tanpa harus menjadi pembeda pada pendampingan dengan lokasi lainnya termasuk lokasi kategori pertama. Sebelum kegiatan ini dibuka oleh Ka. Balai PPW Gorontalo.  Nurdiana Habibie pada sambutannya menyampaikan bahwa program kotaku dianggap sangat baik sekali, dan senang sekali saya, karena betul-betul menyentuh lansung kepada masyarakat, dan betul-betul masyarakat dilibatkan didalamnya. Menurut “Dia Nurdiana Habibie”  ditengah Covid-19 saya melihat lansung bagaimana pekerja itu melakukan pencegahan dengan tetap memakai masker, kegiaatan padat karya kedepan perlu lebih ditingkatkan lagi karena sangat bersentuhan lansung dengan masyarakat.

Pelatihan penguatan ini dimaksudkan untuk memberi penguatan kepada Tim pendamping pada lokasi kategori Dua dan Tiga. Terutama meriview kembali sejauh mana pemahaman tetang cara melakukan review RPLP, membangun kelembagaan yang kuat dan fasilitator yang mempunyai visi misi yang kuat didalam melakukan pendampingan. Tim Fasilitator selaku agen pemberdayaan dan agen proyek diharapkan mampu mengemas tugas ini dalam bungkusan yang rapi terutama dalam menggugah kesadaran masyarakat lokasi dampingannya. Bahwa permasalahan yang terkait Lima infrastruktur dasar, masalah terbesarnya lebih pada kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita, kurangnya nilai-nilai kegotong-royongan dan orang-orang yang baik selama ini tidak diberi akses dalam satu wadah atau lembaga untuk ikut lerlibat dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya. Tugas utama pemandu pada pelatihan Tim Korkot dan Tim Fasilitator Non BPM adalah memberikan kesadaran penuh kepadanya bahwa apa yang harus dilakukan didalm pendampingan program kotaku adalah suatu yang pasti, dan itu harus diyakini oleh mereka sebelum melakukan pendampingan tersebut.

Rumusan lahirnya RPLP dan terbentuknya BKM sebagai wadah berhimpun orang-orang baik itu hanyalah langka awal dalam proses memulai mengatasi berbagai permasalahan. Dan ini bagian-bagian terkecil permasalahan yang ada ditengah masyarakat. Pokok permasalahan yang paling penting yang merupakan tugas Fasilitator membangun kesadaran kritis masyarakat agar masyarakat mampu menanggulangi permasalahannya secara terorganisasi dan sistematis, termasuk mendorong peran serta dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat—termasuk masyarakat miskin dan perempuan—melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dalam tahapan kegiatan. Fasilitator bertugas melakukan transformasi pengetahuan dan ketrampilan guna memperkuat dan mengembangkan kemampuan relawan/kader-kader masyarakat sebagai agen pemberdayaan masyarakat, serta memperkuat dan mengembangkan kapasitas KSM dan KPP sebagai kelompok dinamik, mengenali peluang usaha atau mengembangkan usaha yang ada, menyusun proposol usaha, dan pengelolaan keuangan secara sederhana.

Pengembangan kapasitas secara berjenjang itu suatu keharusan yang selalu dikembangkan dan dijalankan oleh program Kotaku. Sehingga dengan penyadaran akan makna nilai-nilai kemanusiaan ini, akan menggugah kita untuk lebih peduli terhadap sekitar lingkungan dimana kita berada. Kita dalam strata jabatan mendorong untuk bisa berkolaborasi  terutama yang ada di pokja pkp. PKP sebagai manivestasi dari semua jabatan yang ada, merupakan solusi dari semua rumusan yang ada di Kelurahan yang telah dirumuskuan melalui RPLP akan menjadi selesai dalam penjabaran Kolaborasi pada tataran pokjo PKP tersebut. Lagi-lagi tantangan terberatnya lebih pada kepeduliaan dan komitmen kita semua.

Pelatihan Tim Korokot dan Tim Fasilitator lokasi non BPM selain mengingatkan kembali cara dan proseduralnya, juga memberi inspirasi baru kepada para pendamping lokasi tersebut. Relawan,Data baseline, RPLP, dan BKM yang ada di Kelurahan, itu juga semoga jauh lebih baik lagi.

.

Penulis: Mustar Musyahri, Sub-Prof Komunikasi Program Kotaku Provinsi Gorontalo

Editor : Mustafa Hanafi

Gorontalo,Mustar Musyahri Sabtu, 10 Oktober 2020

 

News Feed