oleh

Islam Sebagai Rahmatan Lil Alamin

 

“Sidang isbat secara bulat menetapkan 1 Syawal 1443 H jatuh pada hari Senin, 2 Mei 2022,” ujar Menag dalam konferensi pers yang digelar usai Sidang Isbat 1 Syawal 1443 H. Menurut Menag, sidang menyepakati keputusan tersebut karena dua hal. Setelah mendengar paparan Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag yang menyampaikan bahwa ketinggian hilal di seluruh Indonesia berada pada posisi 4 derajat 0, 59 menit sampai dengan 5 derajat 33,57 menit,” kata Menag. Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah jatuh pada Senin besok, tanggal 2 Mei 2022. Hal itu berdasar hasil Sidang Isbat Awal Syawal 1443 H dipimpin Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Sehubungan dengan itu, Warga masyarakat Kpmpleks Grahajanna Land 2 RW. 9 Kelurahan Manggala Kecamatan Manggala melaksanakan Shalat hari Raya Idul Fitri 1 Shawal 1443 H, di Masjid Kompleks Grajanna Land 2. Imam adalah Bapak H. Mawardi, SE Ketua RW. 09 Kompleks Garajanna Land 2 Nipa-Nipa Antang. Yang membawakan ceramah atau khutbah  pada hari raya tersebut, Bapak Dr. Amir, SE, MA. Beliau juga merupakan Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Pelaksanaan shalat idul fitri tersebut dimeriahkan oleh warga Jamaah kompleks grahajanna dan warga masyarakat sekitarnya.

Ustadz Amir, pada khutbahnya menyampaikan tentang konsep Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Kalimat Tahlil, Tahmid dan Takbir merupakan pengakuan manusia atas kebesaran Allah melambangkan persatuan masyarakat Islam diseluruh dunia. Tahlil, Tahmid dan Takbir juga sebagai ungkapan kekuasan Allah, dan merupakan tanda kesyukuran, kebahagian,kedamaian dan kesucian pada hati manusia. Inilah sehingga dikatakan oleh Allah Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Agama yang membawa kedamaian manusia, masyarakat bangsa dan Negara.

Untuk menjadikan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin Kata “Utadz Amir” paling tidak ada 4 aspek yang kita harus pahami dan lakukan didalamnya. Yang pertama, Islam dari Kata Aslam, artinya manusia hidup dalam kedamaian, kesucian, dan kepatuhan kepada Allah SWT. Oleh karena itu siapapun kita sebagai manusia, kita selalu ingin hidup pada kedamaian, kesucian, dan hidup pada kepatuhan dan ketaatan hanya kepada Allah semata. Dan ini juga merupakan fitra dari kesucian kejadian manusia. Yang kedua Islam  memberikan Tiga dimensi pada Kehidupan manusia. Pertama hubungan manusia dengan Allah, Kedua hubungan manusia dengan manusia, dan Yang Ketiga hubungan manusia dengan dengan mahluk lainnya pada alam semesta. Tiga dimensi ini juga akan mengantarkan manusia pada kedamaian, kesucian dan fitra kepatuhan dan ketaatan manusia kepada Allah SWT.

Yang Ketiga Lanjut Kata Ustadz “Amir”, Dimensi ukhuwah atau persaudaraan. Pada ajaran Islam yang manusia anut Ada 3 dimensi persaudaraan yang menjadi pedoman didalam berislam. Pertama Setiap manusia itu adalah bersaudara. Walaupun berbeda agama suku, bangsa, bahasa  dan negara, akan tetapi kita adalah bersaudara. Dasarnya karena sumber kejadian manusia asalnya dari Adam dan Hawa. Yang Kedua persaudaraan antar bangsa dan Negara. Di Dunia ini kurang lebih 300 bangsa dan negara, dimana dalam berbangsa dan Negara  manusia yang ada didalamnya itu juga adalah saudara kita. Saudara sesama manusia didalam berbangsa dan bernegara. Jauh sebelum dunia mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rasulullah SAW, sudah mengumunkan kepada manusia dengan ayat yang ada dalam Alquran surah al-Hujurat [49]: 13, yang isinya adalah sebagai berikut, Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah menciptakan kalian menjadi laki-laki dan perempuan, dan (dengan menciptakan manusia berpasangan) kami telah jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling bertakwa diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. Yang ketiga ukhuwah islamiah, Kita semua bersaudara karena satu agama yaitu Islam walaupun berbeda bahasa, warna kulit, suku bangsa dan negara, Akan tetapi karena keyakinan dan agama Islam maka kita semua adalah bersaudara. Sekalipun berbeda pandangan, berbeda pemahaman akan tetapi perbedaan itu adalah merupakan sunnatullah, dan tetap pada koridor manusia adalah tetap bersaudara. Sebagaimana pada rujukan ayat tersebut diatas.

Yang ke-Empat atau yang terakhit Kata Ustadz “Amir” adalah kita semua bersaudara karena satu kebenaran, kita bersaudarara karena kebaikan, sekecil apapun kebaikan pada prinsipnya kita semua bersaudara. Selain kita bersaudara karena  nilai kebaikan, juga kita bersaudara sesama manusia kerena nialai stetika. Nilai stetika mangajarkan tentang keindahan, kesopanan, termasuk pada merenungi keindahan penciptaan manusia, keindahan penciptaan alam semesta raya, Dengan nilai estetika ini mengantarkan manusia pada Rasa atas kebanggaan dirinya, sesama manusia, alam semesta dan pencipataan keindahan atas kekuasaan Allah SWT, dimana Allah penciptakan segalahnya termasuk pada kekuasaan pada pemberi pengasih dan penyayang  kepada manusia, alam dan juga pada konteks berbangsa dan bernegara. Aamiin.

Penulis   : Mustar (Warga Kompleks Grahajanna Land 2)

Editor     : Mutafa Hanafi

Makassar, Mustar
Senin 2 Mei 2022

News Feed